Thursday, August 03, 2006

Sejarah Huruf Hijaiyyah

Sejarah Huruf Hijaiyyah

Salah satu pembahasan yang terpenting dalam kajian Metode Struktur dan Format Al Quran adalah struktur abjad (huruf hijaiyyah).

Struktur huruf menurut prespektif kajian ini merupakan representasi dari organ atau titik-titik (sub struktur) dalam tubuh manusia secara fisik namun lebih lengkap dan detil dibandingkan dengan struktur 'ain. Karena struktur 'ain hanya representasi dari organ-organ vital manusia.

Pada awalnya, pemaknaan masing-masing huruf menjadi sebuah representasi dari organ tertentu, memang menggunakan pendekatan mistis, tetapi kemudian dikembangkan dan diterapkan sehingga bersifat empiris.

Riwayat Sejarah
1. Dari Abdurrahman bin Usman, dari Qasim bin Asbagh, dari Ahmad bin Zuhair, dari al Fadl bin Dakkin, dari Wail dari Jabir dari Amir dari Samurah bin Jundab, ia berkata: "Saya telah melakukan pengkajian terhadap asal muasal tulisan Arab. Saya temukan tulisan Arab telah ada dan digunakan suku Al Anbar sebelum suku Hiyarah mempergunakanya”.

2. Dari Ibnu Affan dari Qasim dari Ahmad dari az Zubair bin Bakkar, dari Ibrahim bin al Mundzir, dari Abdul Aziz bin lmran, dari Ibrahim bin Ismail bin Abi Hubaib dari Dawud bin Husain dari lkrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Orang yang pertama kali mengucapkan bahasa Arab dan membuat tulisan lafalnya adalah Ismail bin Ibrahim."

3. Dari Ahmad bin Ibrahim bin Faras Al Makky, dan Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad, dari kakeknya, dari Sufyan bin 'Uyainah dari Mujalid, dari as Sya'by, ia berkata: "Kami ditanya orang-orang muhajirin: "dari mana kalian belajar menulis? Kami menjawab: "dari penduduk suku Hiyarah. Kemudian orang-orang Muhajirin mengklarifikasi berita itu kepada penduduk Hiyarah. Mereka bertanya: "Dari mana kalian belajar menulis? Penduduk suku Hiyarah menjawab: "Kama belajar dari: suku Anbar".

Abu 'Amr mengatakan: "Dalam kitab Muhammad bin Sahnun terdapat riwayat sebagai berikut: Dari Abul Hajjaj yang mempunyai nama asli Sakan bin Tsabit berkata: dad. Abdullah bin Farukh dari Abdur Rahman bin Ziyad bin An'am al Mu'afiry dari ayahnya Ziyad bin An'am ia berkata: "saya berkata kepada Abdullah bin Abbas: "Wahai suku Quraisy, apakah kalian pada zaman jahiliyyah menulis dengan tulisan Arab seperti ini, kalian menggabungkan huruf tertentu dan memisah huruf tertentu, ada alif, lam, mim, syakl, qath' dan lain-lain sebelum Allah mengutus Nab' SAW?"

Ia menjawab: “ya”,
Lalu aku berkata: ‘Siapa yang mengajari kalian menulis?”.
Ia menjawab: “Harb bin `Umayyah”.
Aku bertanya lagi: "Lalu siapa yang mengajari Harb bin Umayyah?”.
Ia menjawab: “Abdullah bin Jud'an”.
Aku bertanya lagi: “Siapa yang mengajari Abdullah bin Jud'an?”.
Ia menjawab: "Penduduk Al Anbar".

Aku bertanya lagi: “Siapa yang mengajari penduduk Al Anbar?”.
Ia menjawab: “Seseorang yang datang dari tanah Yaman, dari suku Kindah”.
Aku bertanya lagi: “Lalu siapakah yang mengajarkan seseorang tersebut?”.
Ia menjawab: "Al Juljan bin Al Muhim, ia adalah sekretaris nabi Hud as untuk menuliskan Wahyu dari Allah SWT."

Dari Ibnu Affan, dari Qasim, dari Ahmad bin Abi Khaitsamah ia berkata: "Huruf Hijaiyyah berjumlah 29 huruf, semua lafal dan tulisan Arab tidak bisa lepas dari huruf tersebut."

Dari Ibrahim bin Al Khattab al Lama'iy, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al Fadl, dari Abdullah bin Najiyah dari Ahmad bin Musa bin Ismail al Anbary dari Muhammad bin Hatim Al Muaddib dari Ahmad bin Ghassan dari Hamid bin Al Madainy dari Abdullah bin Said, ia berkata: “Telah sampai kepada kita sebuah riwayat bahwa ketika huruf-huruf Mu'jam yang berjumlah 29 menghadap Yang Maha Pengasih, huruf Alif merendahkan diri dihadapan-Nya. Allah terkesan dengan sikap rendah hatinya, lalu Dia menjadikan alif sebagai awalan dari nama-Nya (Allah)”.

Abu Amr berkata: “Sebagian ahli bahasa mengatakan alasan alif menempati urutan pertama karena alif merupakan representasi dari hamzah yang menjadi awal kalimat, alif layyinah, dan hampir semua hamzah.”

Kemudian alif hanya menjadi awal kalimat tatkala huruf yang lain yaitu wawu dan ya ikut merepresentasikan dirinya yang pada keadaan yang lain berbentuk hamzah di tengah dan di akhir.

Abu Amr berkata “Alasan kenapa setelah huruf alif adalah huruf baa, taa, tsaa adalah karena huruf tersebut adalah huruf yang paling banyak menyerupai huruf yang lain, di mana jika huruf yaa dan nuun terletak pada awal kalimat atau di tengah kalimat maka akan menyerupainya sehingga kalau di jumlah ada 5 huruf yang berkarakter sama. Oleh karena itu untuk mengantisipasi dan mencari jalan keluamya adalah dengan mendahulukan urutannya. Kemudian urutan setelah baa, taa, tsaa adalah jiim, haa, khaa."

Tertib urutan huruf yang serupa (mutasyabihat) dan Mazdujat (dal, dzal, ra' dan lain-tain) adalah sesuai dengan sedikit atau banyaknya frekwensi dipergunakan dalam percakapan. Jadi semakin depan urutannya, semakin banyak digunakan dalam percakapan. Kecuali untuk huruf nun dan ya sekalipun kedua huruf tersebut diakhirkan namun ia mempunyai derajat yang sama dengan huruf yang menempati urutan di depan karena huruf yang menyerupai karaktemya telah di tempatkan di depan (ba, ta, tsa).

Selanjutnya Abu Amr mengatakan diantara huruf ada juga yang tidak bisa disambung dengan huruf yang lain setelahnya. Jumlahnya ada 6 yaitu : alif, dal, dzal, ra, za, dan wawu.

Alasan kenapa huruf tersebut tidak bisa disambung dengan huruf yang lain juga sama dengan di atas yaitu untuk menghindari keserupaan antar huruf. Andaikata alif bisa disambung dengan huruf lain setelahnya, akan serupa dengan huruf lam, dan wawu akan sama dengan huruf fa dan qaf, dan dal, dzal, ra, za akan sama dengan ya dan ta.

Alasan lain yang dikemukakan Abu Amr tentang rahasia di batik urutan huruf hijaiyyah adalah: Alif menempati urutan pertama karena dua alasan yaitu berdasarkan Khabar (tentang sikap rendah diri Alif di hadapan Allah) dan Nadzar (pemyataan ahli bahasa yang telah dijelaskan di atas).

Selain itu karena Alif menjadi awal dari ayat surat Al Fatihah yang merupakan induk Al Quran dan karena seringnya digunakan dalam tulisan dan percakapan.

Bisa disimpulkan huruf alif adalah huruf yang hampir seluruh kata tidak bisa dan tidak mungkin terlepas darinya dan paling banyak diulang dan digunakan dalam percakapan.

Kemudian huruf setelah alif adalah huruf baa, taa, tsaa. Oleh karena ketiga huruf tersebut yang terbanyak mempunyal karakter yang sama maka tradisi pun mengikutinya untuk menulisnya setelah alif.

Alasan kenapa huruf ba terletak setelah huruf alif adalah karena huruf ba menjadi awal dari Basmalah setelah sebelumnya huruf alif menjadi awal Ta'awwudz. Selain itu, ba menempati urutan kedua setelah alif dalam rumusan huruf Arab (hija) kuno yaitu lafal AB' JADIN.

Alasan lain yaitu karena ba bertitik satu, ta bertitik dua, dan tsa bertitik tiga. Jadi sesuai dengan urutan angka. Oleh karena itu ba menempati urutan pertama, ta kedua dan tsa ketiga.

Ada juga yang mengatakan alasannya adalah karena sedikit atau banyaknya frekwensi penggunaannya dalam kalimat sehingga yang didahulukan adalah yang paling banyak frekwensinya.
Kemudian huruf jim, ha, dan kha. Ketiganya paling banyak mempunyai karakter dibanding huruf yang lain. Alasan setelah tsa dan jim adalah karena bersambungnya huruf jim setelah ba pada lafal ABI JAD.

Selain itu ha diletakkan sebelum kha karena sesuai dengan urutan makhraj (tempat keluarnya huruf) dimana huruf ha keluar dari tengah tenggorokan dan kha dari tenggorokan bagian atas. Sehingga ha diletakan lebih dulu dari kha.

Setelah itu huruf dal dan dzal. Keduanya berkarakter sama. Dal ditempatkan lebih dulu karena terletak setelah huruf jim pada lafal ABI JAD.

Kemudian ra dan za. Keduanya juga mempunyai karakter sama. Semua huruf yang berpasangan diletakkan secara berurutan dengan alasan yang sama.

Sampai disini urutan penulisan huruf hijaiyyah tidak mengalami perbedaan, baik pada penduduk Masyriq dan Maghrib.

Setelah huruf ra dan za penduduk Masyriq dan Maghrib berbeda pendapat tentang urutan huruf setelahnya. Penduduk Masyriq menulis setelah huruf ra dan za adalah sin dan syin dengan alasan za dan sin mempunyai sifat yang sama: as Shafir.

Sin terletak lebih dahulu ketimbang syin karena yang asal adalah huruf tanpa titik sehingga huruf yang sama karaktemya namun bertitik diletakkan sesudahnya. Yang asal selalu diletakkan pertama dan lebih dahulu ketimbang yang sifatnya far'i (cabang).

Setelah sin dan syin adalah shad dan dhad. Huruf ini pun berkarakter sama dan diletakkan setelah sin karena huruf shad mempunyai sifat sama dengan sin yaitu shafir dan hams.

Kemudian tha dan dza. Keduanya mempunyai karakter yang sama dan sebagaimana huruf-huruf yang lalu tha dan dza mempunyai sifat yang sama yaitu ithbaq dan isti'la.

Tha terletak lebih dahulu karena tha adalah yang asal (tanpa titik). Selain itu dalam lafal ABI JAD tha lebih dahulu.

Huruf selanjutnya adalah ain dan ghain, sebagaimana huruf-huruf Mazduj (berpasangan) yang lain. Ain didahulukan dari ghain dengan alasan Thariqul Makhraj (urutan tempat keluarnya huruf) dan Jihatul I'jam (yang tidak bertitik didahulukan).

Setelah huruf-huruf yang berpasangan adalah huruf-huruf yang terpisah (tidak berpasangan). Yaitu fa' dan qaf. Fa' dalam lafal ABI JAD ditulis setelah Ain begitu juga dengan qaf.

Kemudian huruf kaf, lam, mim, dan nun sesuai dengan urutan penulisannya dalam lafal KALAMUN. Urutan huruf tersebut juga sesuai dengan urutan tempat keluarnya huruf mulai dari tenggorokan bagian atas.

Lam diletakkan terlebih dahulu ketimbang mim dan nun karena lam sama karaktemya dengan huruf alif yang berada pada urutan pertama.

Mim terletak sebelum nun karena mim lebih dominan dan tampak dalam pengucapan, tidak seperti nun yang misalnya dengan hukum idhgham pengucapannya tidak nampak bahkan hilang (Khaisyum).

Selain itu mim sama makhrajnya dengan huruf ba yang menempati urutan kedua setelah alif dan nun akan hilang pengucapannya jika bertemu ba.

Setelah itu huruf wawu, ha, dan ya. Wawu diletakkan lebih dahulu karena wawu mempunyai kemiripan karakter dengan huruf fa'. Ha terletak sebelum ya karena lebih dahulu dalam lafal ABI JAD.

Ya menempati urutan terakhir dalam huruf hijaiyyah karena uniknya huruf ya tersebut ketika terletak pada akhir kalimat berbeda dengan ketika berada di awal dan di tengah.

Penduduk Maghrib menuliskan setelah ra adalah huruf za, tha dan dza. Karena tha sama makhrajnya dengan huruf dal dan dza dengan dzal, Tha terletak sebelum dza karena alasan Plain (sama dengan argumentasi penduduk Masyriq di atas).

Kemudian kaf, lam, mim, dan nun sesuai dengan urutan lafal kalimna dan sesuai dengan lafal ABI JAD.

Setelahnya adalah shad dan dhad sesuai dengan urutan penulisan lafal setelah KALAMUN yaitu SHA'AFADHUN. Selain itu karena shad asli dan tidak bertitik. 'Ain dan ghain, fad dan qaf, sin dan syin, alasannya adalah karena masalah makhraj dan i'jam.

Terakhir adalah ha, wawu, dan ya. Ha terletak lebih dahulu sebelum wawu dan ya karena ha berada di awal pada Lafal HAWAZUN. Begitu juga wawu pada lafal HATHIYYUN.

Dari Ibrahim bin Khuttab, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al Fadl, dari Abdullah bin Najiyah, dari Ahmad bin Badil Al Ayyamy, dari Amr bin Hamid hakim kota ad Dainur, dari Farat bin as Saib dari Maimun bin Mahran, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Segala sesuatu ada penjelasan (tafsir)nya yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya”.

Kemudian ia menjelaskan makna dari:

ABU JAD (aba adamu at ta'ah / Adam enggan taat dan bersikukuh untuk memakan buah
pohon larangan),
HAWAZUN (zalla fa hua minas samai wal ardl/ tereliminasi
dari langit dan bumi),
HATHIYYUN (hutthath 'anhu khatayahu / Adam diampuni
kesalahannya),
KALAMUN (akalaminas syajarah wa munna `alaihi bit taubah/
memakan buah dari pohon larangan dan dianugerahi ampunan),
SHA'AFADHUN (asha
fa akhraja minan na'im ilan nakdy / ia berbuat maksiat sehingga Allah
mengeluarkannya dari kenikmatan (surga) menuju kepayahan (dunia),
QURAISIYAT
(aqarra bidz dzanbi fa amanal 'uqubah/ ia mengakui kesalahan- nya dan akhirnya
selamat dari siksa).


Dari Abdur Rahman bin Ahmad al Harwy dalam kitabnya, dari Umar bin Ahmad bin Syahin dari Musa bin Ubaidillah dari Abdullah bin Abi Sa'id dari Muhammad bin Hamid dad Salamah bin Al fadl dad Abu Abdillah al Bajaly, ia berkata: “Abu Jad, Hawaz, Hathy, Kalamun, Sha'afadlun dan Quraisiyat adalah nama-nama raja Madyan”.

Adapun nama raja Madyan yang ada pada kisah dalam Al Quran pada zaman Nabi Syu'aib yang terkenal dengan tragedi yaumudz dzullah adalah Kalamun.

Abu Amr berkata: “Sebagian ahli nahwu mengatakan bahwa lafal Abu Jad, Hawaz, Hathiy, adalah lafal Arab seperti halnya lafal Zaid dan Amr dalam hal tashrif. Adapun Kalamun, Sha'afashun dan Quraisiyat bahasa Arab sehingga tidak bisa ditashrif, kecuali untuk fatal Quraisiyat bisa ditasrif seperti lafal Arafat dan Adzri'at”

Ibnu an Nadim pada salah satu bab berjudul Al Kalam ala al Qalamil 'Araby dalam kitab At Fihrist mengatakan: “Terdapat perbedaan pendapat tentang siapakah yang pertama kali membuat tulisan Arab”.

Hisyarn al Kalby mengatakan: “Orang yang pertama kali membuatnya adalah sebuah kaum dari Arab, 'Aribah yang singgah pada kabilah 'Adnan bin Ad. Nama-nama mereka adalah Abu Jad, Hawaz, Hathiy, Kalamun, Sha'afasadlun, Quraisat”, demikianlah menurut Ibnul Kufy.

Kemudian mereka membuat tulisan yang didasarkan kepada sama-nama mereka. Kemudian mereka menemukan huruf-huruf yang tidak ada dalam nama mereka yaitu tsaa ﺙ, khaa ﺥ, dzal, dza, syin dan ghain.

Mereka menamakan huruf-huruf ini dengan istilah ar Rawadif (yang sama). Ia berkata: “Mereka adalah nama raja-raja Madyan. Mereka binasa pada tragedi yaumudz dzullah pada zaman Nabi Syu'aib”.

Quthrub mengatakan dalam penulisan Abu tidak memakai wawu dan Jad tidak memakai alif. Ada sebagian orang yang pantang mengulang huruf yang telah disebutkan (alif).

Karena pada dasarnya penulisan wawu pada Abu dan alif pada Jad adalah sebagai penambahan dalam cara baca. Oleh karena itu bagi yang sudah tahu tidak perlu menuliskannya demi menjaga keotentikan lafal tersebut.

32 Huruf dalam Metode Struktur dan Format Al Quran

Orang yang pertama kali mengembangkan huruf hijaiyyah menjadi 32 huruf adalah ilmuwan muslim berkebangsaan India bemama Fadlullah Astarabadi pada akhir abad ke 14.

Sejarah membuktikan antara angka Arab dan India mempunyai kaitan erat. Misalnya angka Nol yang memungkinkan terbentuknya operasi matematika yang sangat rumit. Jauh sebelum Ilmuwan Islam mengenal nol, bangsa India telah mengenalnya sebagai "Shunya" atau kekosongan.

Dalam kajian metode struktur dan Format Al Quran, kita mengenal 32 huruf hijaiyyah. Huruf ke 31, dalam kajian ini karakter huruf lam dan alif [ﺍﻝ] yaitu huruf ke 27 dikembangkan melalui sebuah kajian yang intensif dan bersifat empiris spiritual dengan meletakan alif yang asalnya di depan menjadi di belakang dan diletakkan dalam urutan huruf ke 31.

Sedangkan huruf ke 32, Ta' marbuthah merupakan pengembangan karakter huruf Ta' maftuhah (huruf ke 3) ketika terletak di belakang kata.

Uniknya, sekalipun huruf hijaiyyah sudah dikembangkan sedemkian rupa menjadi 32 huruf tetap saja imbang. Artinya, 16 huruf mu'jam (bertitik) dan 16 huruf Ghairul Mu'jam (tanpa titik). Semoga bermanfaat.


Keterangan:

Makhraj-Makhraj Huruf
Makhraj ialah tempat menahan/menyekat udara ketika bunyi huruf dilafazkan. Huruf yg dimaksudkan ialah huruf Hija'iyah bahasa arab yg mengandungi 28 huruf. Menurut pendapat Imam Al-Khalil Bin Ahmad dan kebanyakan Ahli Qiraat serta Ulama Nahu antaranya Imam Ibnu Al-Jazari. Jumlah bilangan makhraj yg umum terbahagi kepada 5 Bagian.
o Bagian rongga mulut dan rongga kerongkong ( Al-Jauf )
o Bagian kerongkong ( Al-Khalk )
o Bagian lidah ( Al-Lisan )
o Bagian bibir mulut ( Asy-Syafatan )
o Bagian hidung ( Al-Khaisyum )

Wednesday, August 02, 2006

Mengapa Al-Qur’an Diturunkan Bertahap?

Al-Qur’an adalah petunjuk dan obat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menuntun manusia ke jalan Ilahi. Al-Qur’an juga merupakan jalan keluar bagi umat manusia dari penyakit sosial.

Di antara kajian-kajian ilmu Al-Qur’an modem, sering muncul pertanyaan klasik mengenai keberadaan Al-Qur’an. Mengapa Al- Quran diturunkan tidak sekaligus tetapi bertahap?

Pertanyaan itu dikatakan klasik karena jauh sebelum kajian ilmu Al-Qur’an modern berkembang, sudah sering dilontarkan. Pada waktu Al-Qur’an diturunkan pertanyaan itu berkali-kali dilontarkan orang-orang yang disebut Al-Qur’an sebagai "Alladzina fi Qulubihim Maradhun" yaitu orang-orang yang hatinya "sakit".

Sangat beralasan jika Al-Qur’an menyebut mereka demikian. Sebab, dengan pendekatan "Mafhum Mukhalafah" atau pemahaman terbalik, misalnya Al-Qur’an diturunkan sekaligus, bisa saja mereka akan bertanya, "Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan secara bertahap atau terpisah-pisah?"

Dalam Al-Qur’an, terdapat kurang lebih 15 pertanyaan dalam bentuk kata "Yasaluunaka” (mereka bertanya kepadamu), yang dilontarkan orang-orang kafir dengan berbagai motif dan tujuan yang berbeda. Ada yang memang bertanya karena mereka tidak tahu, ada yang bertanya untuk menguji Rasulullah SAW. Selain itu ada juga yang bertanya untuk menjatuhkan Rasulullah di depan para sahabatnya.

Setiap ada pertanyaan dari orang-orang kafir, Allah SWT langsung menjawabnya pada ayat yang sama. Uniknya, pertanyaan-pertanyaan itu timbul tidak bersamaan waktunya. Bagaimana andaikata Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus?

Satu hal yang perlu ditegaskan, yang dimaksud dengan Al-Qur’an diturunkan secara bertahap adalah diturunkannya ayat-ayat Al-Qur’an secara berangsur-angsur per ayat atau persurat, sejak awal bi'tsah (pengangkatan Muhammad sebagai Nabi, ditandai dengan turunnya wahyu yang pertama) sampai Rasulullah SAW wafat selama kurun waktu 23 tahun.

Jibril kadang-kadang turun membawa satu ayat atau beberapa ayat dan terkadang pula membawa sebuah surat pendek ataupun surat yang panjang semisal Al An'am.

Di antara surat yang diturunkan secara sekaligus adalah Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas, Al Lahab, Al Kautsar, Al Bayyinah, Al Mursalat, As Shaf dan Al An 'am.

Satu hal yang perlu diingat, tidak semua yang tidak benar selalu berefek negatif. Artinya, dengan menyikapinya secara bijak, pertanyaan klasik itu justru bisa menjadi dorongan agar di balik penurunan Al-Qur’an yang tidak sekaligus, bisa dipahami kembali.

QS. Al Furqan (25):32 menyebutkan, "Berkatalah orang-orang kafir: "Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?", sebagaimana Allah SWT menurunkan kitab-kitab terdahulu Taurat, Zabur dan Injil.

Kemudian Allah SWT menjawab, "...Demikianlah (kami turunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur), supaya kami perkuat hatimu (Muhammad) dengannya dan kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)."

Pada ayat lain, Allah SWT menjelaskan hikmah di balik penurunan Al-Qur’an secara berangsur-angsur. QS.17 Al Isra: 105 yang artinya, “Dan kami turunkan Al-Qur'an dengan berangsur-angsur agar kamu membaca kannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian."

Bisa dibayangkan, alangkah nikmat dan segarnya jika dalam keadaan sangat haus, minum air seteguk demi 'seteguk untuk merasakan hilangnya dahaga secara perlahan-lahan.

Betapa nyamannya hati manusia, di saat kering-kerontang disiram dengan untaian ayat suci. Dan begitu seterusnya sehingga subur dan terawat. Sebagaimana bumi yang diguyur air hujan. Jika berlebihan yang terjadi adalah banjir.

Demikian juga Al-Qur’an yang diturunkan secara berangsur-angsur. Al-Qur’an bukan hanya merupakan sebuah bacaan yang selesai dibaca sesaat kemudian ditutup kembali. Al-Qur’an juga bukan sesuatu yang dihafal dalam satu atau dua hari selesai.

Hikmah yang lain di balik penurunan Al-Qur’an secara berangsur–angsur adalah agar mudah dihafal. Sejarah membuktikan, orang Arab saat itu mempunyai kelebihan pada hafalan mereka yang kuat. Rasulullah SAW tetap menganjurkan kepada para sahabatnya untuk menulis Al-Qur’an, meskipun beliau menyadari tidak banyak di antara para sahabatnya yang menguasai baca dan tulis.

Bisa dibayangkan, betapa sulit dan susahnya menghafal jika Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus. Bagi Allah semua itu bisa saja terjadi. Hal ini juga membuktikan bahwa Allah SWT Maha bijaksana dengan tidak membebani hambaNya diluar batas kemampuannya.

Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca dan dihafal, tetapi harus diamalkan. Tentu saja umat Islam saat itu akan banyak menemui kendala jika Al-Qur’an diturunkan sekaligus.

Karena mereka baru mengenal dan belajar tentang Islam. Hal ini bisa dimaklumi mengingat Al-Qur’an memuat akidah dan syariah, yang seharusnya dikenalkan dan diajarkan secara bertahap.

Dalam hal syariat, salah satunya, Al-Qur’an melarang khamr atau minuman keras. Pada tahap awal, Allah SWT menjelaskan, bahwa di antara ciptaanNya yang baik dan halal dimakan, bisa dibuat dan dirubah menjadi sesuatu yang diharamkan. QS.16 Al Nahl : 67, artinya, "Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rizki yang baik..."

Tahap kedua, Allah SWT menjelaskan mafsadat dan mudharat khamr sekaligus menegaskan bahwa dampak negatif khamr lebih besar dari pada positifnya. QS.2 Al Baqarah: 219 artinya, "Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya...."

Selanjutnya, pada tahap ketiga, Allah SWT melarang meminum khamr, tetapi tidak secara sekaligus, namun bertahap. Yakni, bersifat temporer hanya saat menjalankan shalat saja. QS.4 An Nisa:: 43, artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan....".

Selanjutnya, setelah secara fisik dan mental (akidah), umat Islam waktu itu telah siap, Allah SWT mengharamkan secara total minuman khamr. QS.5. Al Maidah: 90, artinya, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."

Jika ditilik dari adat kebiasaan bangsa Arab, termasuk umat Islam pada periode awal, di mana khamr ibarat minuman teh, kebiasaan itu sulit ditinggalkan. Semua itu menjadi bebas yang cukup berat untuk ditinggalkan.

Di dalam berdakwah pun harus dibedakan antara seseorang yang sejak lahir Islam karena pengikut jejak orang tuanya, dengan mualaf. Tentu tidak sulit bagi orang yang memeluk Islam sejak lahir untuk menjalani semua perbuatan yang disyariatkan Islam, karena ia memang dididik dalam lingkungan islam. Demikian sebaliknya bagi mualaf, semua harus dilakukan secara bertahap.
-----------
Artikel ini jawaban dari: Kenapa Urutan Al-Qur'an Kacau Balau

Sejarah Kodifikasi Al-Quran

Ass. Wr. Wb. Rekan2, ini ada artikel menarik, jika ada yg tdk benar, maka kita patut meluruskannya.

Sejarah Kodifikasi Al-Quran

Mushaf Al Quran yang ada di tangan kita sekarang ternyata telah melalui perjalanan panjang yang berliku-liku selama kurun waktu lebih dari 1400 tahun yang silam dan mempunyai latar belakang sejarah yang menarik untuk diketahui. Selain itu jaminan atas keotentikan Al Quran langsung diberikan oleh Allah SWT yang termaktub dalam firman-Nya QS.AL Hijr -(15):9: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Al Quran), dan kamilah yang akan menjaganya"..

Al-Quran pada jaman Rasulullah SAW.
Pengumpulan Al Quran pada zaman Rasulullah SAW ditempuh dengan dua cara:

Pertama : al Jam'u fis Sudur
Para sahabat langsung menghafalnya diluar kepala setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu. Hal ini bisa dilakukan oleh mereka dengan mudah terkait dengan kultur (budaya) orang arab yang menjaga Turast (peninggalan nenek moyang mereka diantaranya berupa syair atau cerita) dengan media hafalan dan mereka sangat masyhur dengan kekuatan daya hafalannya.

Kedua : al Jam'u fis Suthur
Yaitu wahyu turun kepada Rasulullah SAW ketika beliau berumur 40 tahun yaitu 12 tahun sebelum hijrah ke madinah. Kemudian wahyu terus menerus turun selama kurun waktu 23 tahun berikutnya dimana Rasulullah. SAW setiap kali turun wahyu kepadanya selalu membacakannya kepada para sahabat secara langsung dan menyuruh mereka untuk menuliskannya sembari melarang para sahabat untuk menulis hadis-hadis beliau karena khawatir akan bercampur dengan Al Quran. Rasul SAW bersabda "Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Al Quran, barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al Quran maka hendaklah ia menghapusnya " (Hadis dikeluarkan oleh Muslim (pada Bab Zuhud hal 8) dan Ahmad (hal 1).

Biasanya sahabat menuliskan Al Quran pada media yang terdapat pada waktu itu berupa ar-Riqa' (kulit binatang), al-Likhaf (lempengan batu), al-Aktaf (tulang binatang), al-`Usbu ( pelepah kurma). Sedangkan jumlah sahabat yang menulis Al Quran waktu itu mencapai 40 orang. Adapun hadis yang menguatkan bahwa penulisan Al Quran telah terjadi pada masa Rasulullah s.a.w. adalah hadis yang di Takhrij (dikeluarkan) oleh al-Hakim dengan sanadnya yang bersambung pada Anas r.a., ia berkata: "Suatu saat kita bersama Rasulullah s.a.w. dan kita menulis Al Quran (mengumpulkan) pada kulit binatang ".

Dari kebiasaan menulis Al Quran ini menyebabkan banyaknya naskah-naskah (manuskrip) yang dimiliki oleh masing-masing penulis wahyu, diantaranya yang terkenal adalah: Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Salin bin Ma'qal.

Adapun hal-hal yang lain yang bisa menguatkan bahwa telah terjadi penulisan Al Quran pada waktu itu adalah Rasulullah SAW melarang membawa tulisan Al Quran ke wilayah musuh. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Janganlah kalian membawa catatan Al Quran kewilayah musuh, karena aku merasa tidak aman (khawatir) apabila catatan Al Quran tersebut jatuh ke tangan mereka”.

Kisah masuk islamnya sahabat `Umar bin Khattab r.a. yang disebutkan dalam buku-bukus sejarah bahwa waktu itu `Umar mendengar saudara perempuannya yang bernama Fatimah sedang membaca awal surah Thaha dari sebuah catatan (manuskrip) Al Quran kemudian `Umar mendengar, meraihnya kemudian memba-canya, inilah yang menjadi sebab ia mendapat hidayah dari Allah sehingga ia masuk islam.

Sepanjang hidup Rasulullah s.a.w Al Quran selalu ditulis bilamana beliau mendapat wahyu karena Al Quran diturunkan tidak secara sekaligus tetapi secara bertahap.

Al-Quran pada zaman Khalifah Abu Bakar as Sidq

SEPENINGGAL Rasulullah SAW, istrinya `Aisyah menyimpan beberapa naskah catatan (manuskrip) Al Quran, dan pada masa pemerintahan Abu Bakar r.a terjadilah Jam'ul Quran yaitu pengumpulan naskahnaskah atau manuskrip Al Quran yang susunan surah-surahnya menurut riwayat masih berdasarkan pada turunnya wahyu (hasbi tartibin nuzul).

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya sebab-sebab yang melatarbelakangi pengumpulan naskah-naskah Al Quran yang terjadi pada masa Abu Bakar yaitu Atsar yang diriwatkan dari Zaid bin Tsabit r.a. yang berbunyi:

"Suatu ketika Abu bakar menemuiku untuk menceritakan perihal korban pada perang Yamamah , ternyata Umar juga bersamanya. Abu Bakar berkata :" Umar menghadap kapadaku dan mengatakan bahwa korban yang gugur pada perang Yamamah sangat banyak khususnya dari kalangan para penghafal Al Quran, aku khawatir kejadian serupa akan menimpa para penghafal Al Quran di beberapa tempat sehingga suatu saat tidak akan ada lagi sahabat yang hafal Al Quran, menurutku sudah saatnya engkau wahai khalifah memerintahkan untuk mengumpul-kan Al Quran, lalu aku berkata kepada Umar : " bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah s. a. w. ?" Umar menjawab: "Demi Allah, ini adalah sebuah kebaikan".

Selanjutnya Umar selalu saja mendesakku untuk melakukannya sehingga Allah melapangkan hatiku, maka aku setuju dengan usul umar untuk mengumpulkan Al Quran.

Zaid berkata: Abu bakar berkata kepadaku : "engkau adalah seorang pemuda yang cerdas dan pintar, kami tidak meragukan hal itu, dulu engkau menulis wahyu (Al Quran) untuk Rasulullah s. a. w., maka sekarang periksa dan telitilah Al Quran lalu kumpulkanlah menjadi sebuah mushaf".

Zaid berkata : "Demi Allah, andaikata mereka memerintahkan aku untuk memindah salah satu gunung tidak akan lebih berat dariku dan pada memerintahkan aku untuk mengumpulkan Al Quran. Kemudian aku teliti Al Quran dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, lempengan batu, dan hafalan para sahabat yang lain).

Kemudian Mushaf hasil pengumpulan Zaid tersebut disimpan oleh Abu Bakar, peristiwa tersebut terjadi pada tahun 12 H. Setelah ia wafat disimpan oleh khalifah sesudahnya yaitu Umar, setelah ia pun wafat mushaf tersebut disimpan oleh putrinya dan sekaligus istri Rasulullah s.a.w. yang bernama Hafsah binti Umar r.a.

Semua sahabat sepakat untuk memberikan dukungan mereka secara penuh terhadap apa yang telah dilakukan oleh Abu bakar berupa mengumpulkan Al Quran menjadi sebuah Mushaf. Kemudian para sahabat membantu meneliti naskah-naskah Al Quran dan menulisnya kembali. Sahabat Ali bin Abi thalib berkomentar atas peristiwa yang bersejarah ini dengan mengatakan : " Orang yang paling berjasa terhadap Mushaf adalah Abu bakar, semoga ia mendapat rahmat Allah karena ialah yang pertama kali mengumpulkan Al Quran, selain itu juga Abu bakarlah yang pertama kali menyebut Al Quran sebagai Mushaf).

Menurut riwayat yang lain orang yang pertama kali menyebut Al Quran sebagai Mushaf adalah sahabat Salim bin Ma'qil pada tahun 12 H lewat perkataannya yaitu : "Kami menyebut di negara kami untuk naskah-naskah atau manuskrip Al Quran yang dikumpulkan dan di bundel sebagai MUSHAF" dari perkataan salim inilah Abu bakar mendapat inspirasi untuk menamakan naskah-naskah Al Quran yang telah dikumpulkannya sebagai al-Mushaf as Syarif (kumpulan naskah yang mulya). Dalam Al Quran sendiri kata Suhuf (naskah ; jama'nya Sahaif) tersebut 8 kali, salah satunya adalah firman Allah QS. Al Bayyinah (98):2 " Yaitu seorang Rasul utusan Allah yang membacakan beberapa lembaran suci. (Al Quran)"

Al-Quran pada jaman khalifah Umar bin Khatab

Tidak ada perkembangan yang signifikan terkait dengan kodifikasi Al Quran yang dilakukan oleh khalifah kedua ini selain melanjutkan apa yang telah dicapai oleh khalifah pertama yaitu mengemban misi untuk menyebarkan islam dan mensosialisasikan sumber utama ajarannya yaitu Al Quran pada wilayah-wilayah daulah islamiyah baru yang berhasil dikuasai dengan mengirim para sahabat yang kredibilitas serta kapasitas ke-Al-Quranan-nya bisa dipertanggungjawabkan Diantaranya adalah Muadz bin Jabal, `Ubadah bin Shamith dan Abu Darda'.

Al-Quran pada jaman khalifah Usman bin ‘Affan

Pada masa pemerintahan Usman bin 'Affan terjadi perluasan wilayah islam di luar Jazirah arab sehingga menyebabkan umat islam bukan hanya terdiri dari bangsa arab saja ('Ajamy). Kondisi ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif.

Salah satu dampaknya adalah ketika mereka membaca Al Quran, karena bahasa asli mereka bukan bahasa arab. Fenomena ini di tangkap dan ditanggapi secara cerdas oleh salah seorang sahabat yang juga sebagai panglima perang pasukan muslim yang bernama Hudzaifah bin al-yaman.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa suatu saat Hudzaifah yang pada waktu itu memimpin pasukan muslim untuk wilayah Syam (sekarang syiria) mendapat misi untuk menaklukkan Armenia, Azerbaijan (dulu termasuk soviet) dan Iraq menghadap Usman dan menyampaikan kepadanya atas realitas yang terjadi dimana terdapat perbedaan bacaan Al Quran yang mengarah kepada perselisihan.

Ia berkata : "wahai usman, cobalah lihat rakyatmu, mereka berselisih gara-gara bacaan Al Quran, jangan sampai mereka terus menerus berselisih sehingga menyerupai kaum yahudi dan nasrani ".

Lalu Usman meminta Hafsah meminjamkan Mushaf yang di pegangnya untuk disalin oleh panitia yang telah dibentuk oleh Usman yang anggotanya terdiri dari para sahabat diantaranya Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin al'Ash, Abdurrahman bin al-Haris dan lain-lain.

Kodifikasi dan penyalinan kembali Mushaf Al Quran ini terjadi pada tahun 25 H, Usman berpesan apabila terjadi perbedaan dalam pelafalan agar mengacu pada Logat bahasa suku Quraisy karena Al Quran diturunkan dengan gaya bahasa mereka.

Setelah panitia selesai menyalin mushaf, mushaf Abu bakar dikembalikan lagi kepada Hafsah. Selanjutnya Usman memerintahkan untuk membakar setiap naskah-naskah dan manuskrip Al Quran selain Mushaf hasil salinannya yang berjumlah 6 Mushaf.

Mushaf hasil salinan tersebut dikirimkan ke kota-kota besar yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan Yaman. Usman menyimpan satu mushaf untuk ia simpan di Madinah yang belakangan dikenal sebagai Mushaf al-Imam.

Tindakan Usman untuk menyalin dan menyatukan Mushaf berhasil meredam perselisihan dikalangan umat islam sehingga ia manual pujian dari umat islam baik dari dulu sampai sekarang sebagaimana khalifah pendahulunya Abu bakar yang telah berjasa mengumpulkan Al Quran.

Adapun Tulisan yang dipakai oleh panitia yang dibentuk Usman untuk menyalin Mushaf adalah berpegang pada Rasm alAnbath tanpa harakat atau Syakl (tanda baca) dan Nuqath (titik sebagai pembeda huruf).

Tanda Yang Mempermudah Membaca Al-Quran

Sampai sekarang, setidaknya masih ada empat mushaf yang disinyalir adalah salinan mushaf hasil panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit pada masa khalifah Usman bin Affan. Mushaf pertama ditemukan di kota Tasyqand yang tertulis dengan Khat Kufy. Dulu sempat dirampas oleh kekaisaran Rusia pada tahun 1917 M dan disimpan di perpustakaan Pitsgard (sekarang St.PitersBurg) dan umat islam dilarang untuk melihatnya.

Pada tahun yang sama setelah kemenangan komunis di Rusia, Lenin memerintahkan untuk memindahkan Mushaf tersebut ke kota Opa sampai tahun 1923 M. Tapi setelah terbentuk Organisasi Islam di Tasyqand para anggotanya meminta kepada parlemen Rusia agar Mushaf dikembalikan lagi ketempat asalnya yaitu di Tasyqand (Uzbekistan, negara di bagian asia tengah).

Mushaf kedua terdapat di Museum al Husainy di kota Kairo mesir dan Mushaf ketiga dan keempat terdapat di kota Istambul Turki. Umat islam tetap mempertahankan keberadaan mushaf yang asli apa adanya.

Sampai suatu saat ketika umat islam sudah terdapat hampir di semua belahan dunia yang terdiri dari berbagai bangsa, suku, bahasa yang berbeda-beda sehingga memberikan inspirasi kepada salah seorang sahabat Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah pada waktu itu yang bernama Abul-Aswad as-Dualy untuk membuat tanda baca (Nuqathu I’rab) yang berupa tanda titik.

Atas persetujuan dari khalifah, akhirnya ia membuat tanda baca tersebut dan membubuhkannya pada mushaf. Adapun yang mendorong Abul-Aswad ad-Dualy membuat tanda titik adalah riwayat dari Ali r.a bahwa suatu ketika Abul-Aswad adDualy menjumpai seseorang yang bukan orang arab dan baru masuk islam membaca kasrah pada kata "Warasuulihi" yang seharusnya dibaca "Warasuuluhu" yang terdapat pada QS. At-Taubah (9) 3 sehingga bisa merusak makna.

Abul-Aswad ad-Dualy menggunakan titik bundar penuh yang berwarna merah untuk menandai fathah, kasrah, Dhammah, Tanwin dan menggunakan warna hijau untuk menandai Hamzah. Jika suatu kata yang ditanwin bersambung dengan kata berikutnya yang berawalan huruf Halq (idzhar) maka ia membubuhkan tanda titik dua horizontal seperti "adzabun alim" dan membubuhkan tanda titik dua Vertikal untuk menandai Idgham seperti "ghafurrur rahim".

Adapun yang pertama kali membuat Tanda Titik untuk membedakan huruf-huruf yang sama karakternya (nuqathu hart) adalah Nasr bin Ashim (W. 89 H) atas permintaan Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqafy, salah seorang gubernur pada masa Dinasti Daulah Umayyah (40-95 H). Sedangkan yang pertama kali menggunakan tanda Fathah, Kasrah, Dhammah, Sukun, dan Tasydid seperti yang-kita kenal sekarang adalah al-Khalil bin Ahmad al-Farahidy (W.170 H) pada abad ke II H.

Kemudian pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Al Quran khususnya bagi orang selain arab dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa Isymam, Rum, dan Mad.

Sebagaimana mereka juga membuat tanda Lingkaran Bulat sebagai pemisah ayat dan mencamtumkan nomor ayat, tanda-tanda waqaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri dari nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah 'ain.

Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Al Quran adalah Tajzi' yaitu tanda pemisah antara satu Juz dengan yang lainnya berupa kata Juz dan diikuti dengan penomorannya (misalnya, al-Juz-utsalisu: untuk juz 3) dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah Juz dan Juz itu sendiri.

Sebelum ditemukan mesin cetak, Al Quran disalin dan diperbanyak dari mushaf utsmani dengan cara tulisan tangan. Keadaan ini berlangsung sampai abad ke16 M. Ketika Eropa menemukan mesin cetak yang dapat digerakkan (dipisah-pisahkan) dicetaklah Al-Qur'an untuk pertama kali di Hamburg, Jerman pada tahun 1694 M.

Naskah tersebut sepenuhnya dilengkapi dengan tanda baca. Adanya mesin cetak ini semakin mempermudah umat islam memperbanyak mushaf Al Quran. Mushaf Al Quran yang pertama kali dicetak oleh kalangan umat islam sendiri adalah mushaf edisi Malay Usman yang dicetak pada tahun 1787 dan diterbitkan di St. Pitersburg Rusia.

Kemudian diikuti oleh percetakan lainnya, seperti di Kazan pada tahun 1828, Persia Iran tahun 1838 dan Istambul tahun 1877. Pada tahun 1858, seorang Orientalis Jerman , Fluegel, menerbitkan Al Quran yang dilengkapi dengan pedoman yang amat bermanfaat.

Sayangnya, terbitan Al Quran yang dikenal dengan edisi Fluegel ini ternyata mengandung cacat yang fatal karena sistem penomoran ayat tidak sesuai dengan sistem yang digunakan dalam mushaf standar. Mulai Abad ke-20, pencetakan Al Quran dilakukan umat islam sendiri. Pencetakannya mendapat pengawasan ketat dari para Ulama untuk menghindari timbulnya kesalahan cetak.

Cetakan Al Quran yang banyak dipergunakan di dunia islam dewasa ini adalah cetakan Mesir yang juga dikenal dengan edisi Raja Fuad karena dialah yang memprakarsainya. Edisi ini ditulis berdasarkan Qiraat Ashim riwayat Hafs dan pertama kali diterbitkan di Kairo pada tahun 1344 H/ 1925 M. Selanjutnya, pada tahun 1947 M untuk pertama kalinya Al Quran dicetak dengan tekhnik cetak offset yang canggih dan dengan memakai huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang ahli kaligrafi turki yang terkemuka Said Nursi.